Konsep HOTS dalam Pembelajaran
Dalam pembelajaran guru harus terus melakukan transformasi dalam mengajar. Salah satunya mendidk siswa dengan konsep HOTS (Higher Order Thinking Skills). Konsep HOTS bukanlah alat, strategi atau model mengajar. Tetapi HOTS lebih tepat sebagai cara berpikir adaptif. Makanya, ketika pendidik senantiasa membiasakan HOTS, hasilnya ketidakpastian siatuasi pendidikan atau dunia makaakan mudah diatasi.
Untuk memahami Konsep HOTS, maka sepatutnya kita mengkaji pendapat Kirsten Tobey, pendiri Revolution Foods, duduk di kantin sebuah sekolah untuk melakukan riset kecil. Dia mengajukan pertanyaan kepada anak-anak bagaimana perasaan mereka tentang pilihan makanan yang disediakan oleh penjual makanan di kantin. Seorang anak memberikan pernyataan “ini pasti disiapkan oleh seseorang yang sangat menghormati dan menghargai saya”. Pernyataan di atas merupakan salah satu karakter pendidikan modern. Menghormati siswanya. Sekolah modern akan berisi para siswa yang banyak bicara, banyak bergerak, berpikir bercabang, dan butuh didengarkan. Sekolah masa depan tidak terkungkung di dalam ruang sekat ruang kelas. Tapi dengan teknologi dia berada dan berelasi dengan siswa dan guru dari berbagai dunia.
Sedangkan defenisi HOTS menurut Thomas & Thomas (2009) yaitu, cara berpikir yang lebih tinggi daripada menghafal fakta, mengemukakan fakta, atau menerapkan peraturan, rumus dan prosedur. Sedangkan menurut Onosko & Newman (1994) potensi penggunaan pikiran untuk menghadapi tantangan baru. “Baru” berarti aplikasi yang belum pernah dipikirkan siswa sebelumnya.
Dari dua defenisi di atas dapat disimpulkan kedua ahli sepakat bahwa HOTS berhubungan dengan cara berpikir di luar cara berpikir biasa.Bahkan tidak dipikirkan sebelumnya. Perbedaan terletak pada kajian, jika Thomas lebih kepada cara berpikir yang biasa, mengikuti peraturan dan rumus serta prosedur, sedangkan Onosko dan Newman lebih kepada berpikir menghadapi tantangan baru yang diaplikasikan bahwa aplikasi tersebut belum pernah dipikirkan.
Kedua masih bersifat abstract dan sulit dicernah. Maka, pernyataan ahli lain bisa dikutip, seperti menurut Teacing Knowledge Test Cambridge English, The University of Cambridge (2015), bahwa HOTS merupakan keterampilan kognitif seperti analisis dan evaluasi yang bisa diajarkan oleh guru kepada siswanya. Keterampilan tersebut termasuk memikirkan sesuatu dan membuat keputusan tentang suatu hal, menyelesaikan masalah, berpikri kreatif, dan berpikir tentang keuntungan (hal positif)(, dan kerugian (hal negative) dari suatu.
Dari defenisi di atas dapat disimpulkan bahwa HOTS merupakan cara berpikir yang merupakan berpikir analisis, evaluasi, mensentesis. Cara berpikir ini bisa diajarkan guru kepada siswa. Untuk memahami konsep HOTS ini, penulis mencoba melampirkan gambar yang dikutip dan dimodifikasi dari Arifin Nugroho (2021) sebagai berikut;
![]() |
| Gambar 1.1 Empat Komponen HOTS |
Sedangkan regulasi kognisi terdiri dari tiga komponen yaitu, merencanakan, mengawasi dan mengevaluasi. Merencanakan merupakan tahap merumuskan tujuan, latar belakang pengetahuan, dan perencanaan waktu, serta berbagai sumber daya lain. Mengawasi pada prinsipnya mampu menguji atau menilai diri sendiri untuk mengontrol proses pembelajaran. Sedangkan mengevaluasi merujuk apda menilai hasil dan sistem proses pembelajaran yang telah berlangsung.
Demikian materi terhadap Konsep HOTS ditinjau dari empat Komponen HOTS. Untuk pembahasan terkait level kognisi akan disajikan pada pembahasan berbeda.
Penulis
Assoc Prof. Dr. Muhammad Arifin, M.Pd
Dosen Pascasajana UMSU

Komentar
Posting Komentar